Referensi

Jasa Web Design

Wednesday, November 28, 2007

AL QUDS (JERUSALEM) - Waktu terus berdetak. Ia mengiringi langkah Presiden AS George W. Bush yang mensponsori perdamaian Palestina-Israel. Sejatinya, Bush hanya meneruskan sepuluh presiden AS pendahulunya yang gagal mengakhiri konflik tersebut.

Sejumlah perjanjian damai memang sempat terjadi di antara mereka. Tapi, kenyataannya sering lain. Sebab, pada akhirnya, seluruh kebijakan bergantung kepada PM Israel Ehud Olmert dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Setidaknya empat isu utama yang melandasi konflik itu. Yang utama adalah keberadaan Jerusalem, yang oleh pihak Palestina disebut Al Quds, sebagai ibu kota bersama. Lainnya adalah masalah perbatasan, pengungsi, dan keamanan

Titik yang diperebutkan adalah garis gencatan senjata yang ditetapkan setelah Israel memenangkan kontrol di daerah sekitar Tepi Barat, Jalur Gaza, Dataran Tinggi Sinai, dan Golan.

Salah satu titik paling krusial adalah Garis Hijau -titik yang memisahkan Israel dan Tepi Barat. Namun, perbatasan riil itu di masa depan, tampaknya, akan lebih condong kepada apa yang selama ini disebut mantan PM Israel Ariel Sharon sebagai "fakta di atas tanah".

Maksud Ariel adalah tembok beton yang dilengkapi pagar elektronik. Tembok yang didirikan Israel itu membujur sepanjang 430 mil (sekitar 692 kilometer) di sepanjang Tepi Barat. Tembok tersebut lebih populer dengan sebutan tembok pemisah. Letaknya sangat menjorok ke wilayah Palestina.

Saat selesai nanti, tembok itu justru mencaplok tidak kurang dari sepuluh persen wilayah Tepi Barat. Tipis kemungkinan Israel menawarkan ganti rugi yang setara untuk wilayah yang telanjur dicaplok di beberapa titik tersebut.

Isu ibu kota tidak kalah penting. Selama ini, Palestina memang menggunakan Al Quds sebagai ibu kota mereka. Tiba-tiba saja Israel mempersoalkannya.

Negeri Zionis tersebut mengklaim kota yang disebutnya Jerusalem itu sebagai ibu kotanya juga. Padahal, banyak negara di dunia tetap menganggap Tel Aviv sebagai ibu kota Israel.

Upaya untuk membagi kota tersebut menjadi dua bagian sangat tidak mungkin dilakukan. Kota tua yang telah dipagari dinding itu menjadi salah satu tanah suci bagi sejumlah agama dunia. Yakni, Islam, Kristen, dan Yahudi. Sebelumnya, daerah tersebut berada di bawah penguasaan Arab sampai perang di tahun 1967.

Kedua kubu tersebut selama ini tidak pernah mencapai kesepakatan dalam subjek itu. Sebab, salah satu ikon agama yang kini diperebutkan juga masih berdiri tegar di salah satu pusat kota itu, yaitu Masjid Al Aqsa yang juga dikenal sebagai Kuil Gunung yang merupakan tempat suci kaum Yahudi.

Isu ketiga adalah pengungsi. Saat ini, terdapat lebih dari 4,4 juta pengungsi Palestina yang hidup di daerah konflik, kamp-kamp pengungsian, dan bahkan tersebar di sejumlah penampungan negara lain yang tersebar di seluruh dunia. Kebanyakan mereka adalah penduduk Palestina yang kehilangan tempat tinggal karena wilayahnya diklaim dan diduduki Israel.

Israel juga menolak migrasi warga Palestina. Sebab, itu akan mencemari status negaranya yang diklaim sebagai negara murni Yahudi. Paling mungkin, Israel nanti hanya bersedia kembali menampung kepulangan sejumlah kecil penduduk Palestina yang telah terusir itu.

Isu pemungkas yang juga menjadi pertimbangan adalah keamanan. Israel yang hanya seluas New Jersey selama ini selalu tidak lepas dari perang. Bertetangga dengan Palestina yang bersenjata lengkap tidak akan membuat Israel tenang.

Sebuah perjanjian damai sangat mungkin akan mengikat kekuatan militer Palestina. Padahal, cadangan senjata Palestina terbatas dan hanya berfungsi untuk pertahanan

Source

Silahkan Beri Komentar Anda Mengenai Berita/Artikel Ini.

0 comments:

 

Power by Grandparagon @ 2007 - 2008 Beritadotcom.blogspot.com