Wednesday, November 28, 2007
JAKARTA - Pemerintah RI berusaha menepati janji kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk membantu menyelesaikan konflik negeri itu dengan Israel. Dalam konferensi perdamaian di Annapolis, Indonesia mengirimkan Menlu Nur Hassan Wirajuda yang didampingi oleh Direktur Urusan Timur Tengah Deplu Aidil Chandra Salim.
Jubir Deplu Kristiarto Soeryo Legowo menegaskan bahwa kedatangan Menlu ke Annapolis, Maryland, tersebut tidak sekadar menjadi observer. "Penting bagi kami untuk mengupayakan perdamaian di Timur Tengah dan menyelesaikan konflik Palestina-Israel," ujarnya di Jakarta kemarin (27/11).
Meski Indonesia tidak terlalu berharap konflik Timur Tengah bisa diselesaikan hanya dalam dialog satu setengah hari itu, Kris mengatakan bahwa Indonesia tetap akan menyampaikan pandangan. "Menlu akan meminta masalah pengungsi Palestina, pendudukan Israel di Jerussalem, konflik di Dataran Tinggi Golan, dan isu Lebanon juga dibahas," tambahnya.
Indonesia berharap dialog yang dimoderatori AS tersebut bisa menjadi langkah awal perundingan perdamaian berikutnya.
Berbeda dengan pemerintah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin pesimistis dengan kontribusi dan netralitas AS sebagai negara penggagas dialog itu. "Sejak dulu, AS selalu memiliki kepentingan atas segala sesuatu yang melibatkan dirinya. Tidak tertutup kemungkinan, sekarang (Konferensi Annapolis, Red)," ucapnya.
Sikap skeptis Din tersebut berkaitan dengan upaya Abbas yang tak kunjung menyelesaikan konflik saudara antara Faksi Hamas dengan Fatah. Setidaknya, itu terlihat dari tidak diikutsertakannya Hamas dalam penyelesaian konflik dengan Israel. "Itu kan semakin sulit. Seharusnya, ada rekonsiliasi sebelum konferensi berlangsung," tuturnya.
Din berharap Pemerintah RI turut bersuara demi membantu penyelesaian konflik antara Palestina dengan Israel. "Pemerintah jangan gentar. Kalau hanya sebagai observer (pemantau, Red), sama saja tidak membantu Palestina," kata dia seusai penandatanganan MoU kerja sama pendidikan antara Muhammadiyah dengan British Council kemarin.
Sebelumnya, PM Israel Ehud Olmert mengingatkan kepada negara-negara Arab dan Indonesia agar tidak turut campur dalam penyelesaian konflik Palestina dengan Israel. Sekutu AS itu meminta agar negara-negara lain hanya berlaku sebagai observer dalam penyelesaian konflik yang telah berlangsung berpuluh tahun tersebut.
Source
Silahkan Beri Komentar Anda Mengenai Berita/Artikel Ini.
Labels: News, Sosial Politik

0 comments:
Post a Comment