Saturday, July 5, 2008
JAKARTA, KAMIS - Pembicaraan warga Palembang dalam tiga hari terakhir ini tak lepas dari penangkapan polisi terhadap 10 orang yang diduga terkait kelompok teroris. Wong Plembang sangat terkejut karena kota pempek yang selama ini relatif aman menyambut program Visit Musi 2008 dan kesibukan pilkada gubernur tanggal 4 September 2008, ternyata menjadi tempat subur bagi kelompok teroris.
”Rasanya enggak mungkin. Dia selalu azan di masjid situ. Bicaranya halus, agak berlogat Jawa,” ujar Suminah (53) warga Lorong (gang) Al-Ikhlas, RT 30 RW 06, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, Palembang, dengan setengah berbisik bercerita tentang tetangganya, Abdul Rahman alias Musa alias Ifan salah satu tersangka yang ditangkap polisi. Tak jauh dari rumah itu ada Masjid Ainul Yaqin, di mana Musa kerap mengumandangan azan.
Musa ditangkap polisi, Selasa (1/7), karena diduga terlibat dalam jaringan teroris, yang terkait dengan Al-Jamaah Al-Islamiyah (JI). Saat ditangkap, Musa tengah mengendarai sepeda motor di Simpang Sekip, Palembang. Musa berusaha kabur dan akhirnya bertabrakan dengan sepeda motor polisi. Musa bahkan sempat berusaha mencabut senjata api revolver yang dibawanya.
Suminah dan suaminya, Sadiun (68), mengaku beberapa kali berinteraksi dengan Musa dan keluarganya. Keempat anak Musa kerap bermain-main di halaman rumah Suminah dan Sadiun, yang tak berpagar. Di rumah Musa, polisi menemukan alat stetoskop.
Burlian Usi (48), tetangga Musa lainnya bertutur, laki-laki kelahiran Kota Bumi, Lampung Tengah 12 Desember 1973 itu kerap dikunjungi tamu, di antaranya Fajar alias Omar, alias Taslim, alias Abu Hazam, seorang warga negara Singapura keturunan India. Omar ditangkap polisi Sabtu (28/6) di Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. ”Mereka berdua juga sering berboncengan sepeda motor,” kata Burlian.
Burlian juga mengenal Omar karena Omar pernah mengontrak sekitar tiga bulan di dekat rumah Musa. Burlian ingat, Omar kerap berjualan Al-Quran, baju koko, dan juga kain. ”Dia pandai bahasa Inggris,” ujar Burlian.
Di antara 10 orang tersangka teroris di Palembang yang dibekuk polisi antiteror, Musa merupakan sosok yang paling keras. Oleh karena itu, Musa kerap dianggap ”pemimpin” di antara anggota lainnya. Dalam kelompok di Palembang ini, tak ada struktur khusus sehingga tak ada pemimpin formal secara struktural.
Source
Labels: Hukum dan Kriminal, News, Sosial Politik

0 comments:
Post a Comment