Referensi

Jasa Web Design

Sunday, May 25, 2008

Dalam ilmu gizi dan kesehatan, penggunaan minyak goreng bekas, apalagi yang telah dipakai berkali-kali hingga warnanya berubah menjadi hitam pekat, sangat tidak disarankan.

Minyak bekas atau yang populer disebut "jelantah", tak baik untuk dikonsumsi karena mengandung asam lemak jenuh yang bisa menyebabkan timbulnya sejumlah penyakit, kata ahli Gizi Univeritas Andalas (Unand), Dr Zulkarnain Agus MPH.

Oleh karena itu, ia menyarankan ibu rumah tangga tidak menggunakan jelantah untuk memasak makanan.

"Sebaiknya minyak goreng sekali pakai saja, dan jika masih bersisa sebaiknya dibuang, karena minyak bekas struktur kimianya sudah berubah, jika dikonsumsi berbahaya," katanya.

Sejumlah penyakit yang bisa timbul akibat mengonsumsi jelantah, antara lain penyempitan pembuluh darah, yang berisiko memicu penyakit jantung koroner, stroke dan hipertensi.

"Minyak jelantah juga tergolong radikal bebas dan bisa merusak pembuluh darah," tambahnya.

Penggunaan jelantah marak terjadi pada saat harga minyak goreng melambung, sehingga guna penghematan, ibu rumah tangga kemudian memakainya. Kondisi itu terjadi pada pertengahan Juni 2007.

Demi penghematan pula, beberapa pedagang "mengakali" menjernihkan minyak goreng dengan oksigen feroksida (H2O2). H2O2 memang bisa membuat warna hitam dan bau pada minyak jelantah hilang, dan minyak jelantah itu menjadi seperti minyak goreng curah murni yang baru.

Tapi bila digunakan dalam jangka waktu lama bisa berbahaya bagi kesehatan, karena asam lemak jenuh tetap tidak terurai, bahkan minyak itu menjadi terkontaminasi zat kimia (H2O2)

Bahan H2O2 sendiri sangat mudah didapat karena bisa dibeli di toko-toko kimia dengan harga sekitar Rp7.000 per liter. Seliter H2O2 ini dapat memurnikan sekitar 1 drum minyak jelantah.


0 comments:

 

Power by Grandparagon @ 2007 - 2008 Beritadotcom.blogspot.com