Friday, March 7, 2008
Koran Tempo dinilai paling independen dibanding tiga media cetak nasional besar lainnya yang terbit di Indonesia. Independensi Koran Tempo disebabkan struktur kepemilikan saham mayoritasnya tidak dikuasai pemilik modal tertentu.
"Bukan karena orang di Tempo lebih baik. Tapi karena struktur kepemilikannya," kata Editor The Asia Pacific Times Anett Keller yang tengah meneliti media cetak Indonesia, Jumat (7/3).
Anett mengaku melakukan penelitian dengan metode pemantauan redaksi dan wawancara. Menurut dia, keterbatasan waktu membuatnya tidak melakukan analisis isi teks Koran Tempo.
Seharusnya, katanya, media massa harus menyebarkan pengetahuan soal media massa bagi masyarakat. Sebuah media massa, dia menambahkan, harus mengungkapkan kepada publik bila ada media massa lainnya yang tidak independen.
Misalnya, bila ada intervensi pemilik modal terhadap redaksi sebuah media massa. "Penyebaran pengetahuan menjadi sulit kalau media massa merasa itu tidak etis atau sungkan," ujarnya.
Penyebaran informasi tersebut, ujarnya, tidak bertujuan menjelekkan media massa lain. Namun, pemberitaan terkait intervensi pemilik modal terhadap media massa harus akurat. "Itu tanggung jawab ke pembaca untuk memberitakan fakta," katanya.
Editor salah satu koran di Jerman itu mengatakan umumnya koran di Jerman relatif independen jika tidak ada kepemilikan saham mayoritas di perusahaan koran itu.
Pemerintah di negara-negara Eropa seperti wilayah Skandinavia, Swedia, dan Belanda memberi subsidi bagi koran yang dianggap minim modal atau miskin. Namun, media massa di negara-negara itu dilindungi konstitusi agar terhindar dari intervensi negara.
Selain itu, media massa yang relatif aman dari intervensi umumnya memiliki saham mayoritas yang dikuasai pembaca. Koran (di Jerman) yang relatif independen mampu bertahan di tengah industri media massa. "Bisa terus, tapi miskin. Gaji mereka setengah dari dari gaji wartawan di koran kaya," ujarnya.
Source
Labels: Jurnalistik, Media, News
0 comments:
Post a Comment