Sunday, January 20, 2008
Padang:Festival Tabuik, sebuah festival keagamaan pengaruh aliran Syiah di Kota Pariaman, Sumatera Barat, mencapai puncaknya hari ini, Minggu (20/1).
Festival tahunan yang selalu dihadiri ratusan ribu penonton dari berbagai daerah ini diawali dengan pembukaan pagi ini oleh Direktur Jenderal Direktorat Nilai Budaya Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Muchlis Paeni.
Festival Tabuik telah ada di Pariaman sejak zaman Kolonial Belanda dibawa oleh mantan tentara Kolonial Inggris asal India. Setelah Traktak London antara Belanda dan Inggris, kawasan Pantai Sumatera diserahkan Inggris kepada Belanda.
Akibatnya tentara Inggris yang dipimpin Stamford Raffles meninggalkan Bengkulu dan pindah ke Sumatera. Tentara India yang ikut Inggris pun dibubarkan. Sebagian dari mereka yang penganut Islam Syiah itu tinggal di Pariaman.
Berbaur dengan masyarakat Pariaman, mereka mewariskan tradisi Tabuik sebagai perayaan Perang Karbala, ingatan akan kekejaman lawan mereka yang menewaskan Imam Hasan dan Iman Hosen, anak Syadina Ali dan cucu Nabi Muhammad SAW.
Festival Tabuik dimulai prosesi ritual mengambil tanah muara 1 Muharam dan puncaknya 10 Muharam dengan membuang dua buah tabuik setinggi 13 meter ke laut.
Kini jadwal pembuangan tabuik disesuaikan hari libur.
Tabuik adalah hiasan dari rangka bambu menyerupai burak (kuda berkepala manusia) memakai sejumlah payung. Burak digambarkan membawa peti mati Hasan-Hosen dan terbang ke langit dengan membuangnya senja hari ke laut Samudera Indonesia.
Meski banyak orang menganggap Tabuik adalah festival pariwisata, Keluarga Pewaris Rumah Tabuik, Bagindo Syafruddin, 58 tahun, tidak setuju dikatakan hanya kegiatan pariwisata.
"Ini acara ritual keagamaan, acaranya tidak bisa diadakan jika tidak dimulai dengan acara dari Rumah Tabuik, ada dua rumah tabuik, salah satu dari keluarga kami," katanya.
Source
Silahkan Beri Komentar Anda Mengenai Berita/Artikel Ini.
Labels: News, Religion (Agama), Seni dan Budaya

0 comments:
Post a Comment