Referensi

Jasa Web Design

Wednesday, January 9, 2008

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan industri menilai perencanaan penetapan harga gas elpiji oleh PT Pertamina (Persero) dinilai buruk. Kenaikan harga jual elpiji untuk industri sebesar mulai 7 Januari 2008 dinilai mengagetkan industri.

Pertamina merencanakan akan menaikan harga jual gas elpiji untuk industri ukuran 50 kilogram dan curah (bulk) sebesar 25-35 persen. Kenaikan harga untuk mencapai harga menguntungkan Pertamina.

"Perencanaannya buruk sekali, mengapa tak ada persiapan untuk memberikan rencana kenaikan yang dibeberkan dalam jangka panjang," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Keramik Indonesia, Achmad Widjaya, Selasa (8/1).

Menurut Achmad, seharusnya Pertamina dapat memberikan informasi kenaikan harga elpiji industri tiga bulan lalu. Pada saat itu harga minyak diperkirakan bakal melambung ke posisi US$ 100 per barel.

Kenaikan harga gas elpiji secara tiba-tiba, kata Achmad, merusak kalkulasi biaya industri. "Bila terus menerus seperti ini, kami susah bertahan," ujarnya. Dia mengatakan, dampak dari kenaikan pelaku industri akan mengubah kegiatan usahanya menjadi pedagang.

Dia juga mengkhawatirkan, kenaikan elpiji industri yang mendadak akan menjalar ke sumber energi lain, seperti harga jual gas alam.

Seharusnya, pemerintah dan Pertamina tak perlu khawatir khawatir dengan pembeberan rencana jangka panjang kebijakan energi. "Dengan kontrol yang kuat, efek negatif yang ditakutkan seperti penimbunan atau dampak kenaikan terlalu dini tak akan terjadi," kata Achmad.

Ketua Umum Asosiasi Sarung Tangan Karet Indonesia, Ahmad Safiun mengatakan, perencanaan jangka panjang kebijakan harga energi bisa membantu kalangan industri. Salah satunya dengan melakukan antisipasi kenaikan biaya operasional. “Kalau kebijakannya selalu naik-turun tanpa ada kebijakan strategis itu menyusahkan industri,” katanya.

Saat ini, kata Safiun, sebagian industri sarung tangan karet menggunakan elpiji 50 kilogram akibat pasokan gas alam yang tersendat. "Persoalan sumber energi harus segera diselesaikan bila industri dapat bersaing," ujarnya.

Juru bicara Pertamina Wisnuntoro mengatakan, kenaikan harga elpiji karena harga minyak mentah dunia, khsusunya dari Arab Saudi, naik karena kondisi harga
minyak (crude price) Aramco terakhir mengalami peningkatan.

Harga elpiji tabung 50 kilogram naik dari Rp 5.852 menjadi Rp 7.932 per kilogram. Adapun harga elpiji dalam bulk naik dari Rp 5.852 menjadi Rp 7.329 per kilogram. Volume penjualan elpiji curah dalam satu tahun sebanyak rata-rata sekitar 150 ribu ton atau 15 persen dari total penjualan elpiji.

Source

Silahkan Beri Komentar Anda Mengenai Berita/Artikel Ini.

0 comments:

 

Power by Grandparagon @ 2007 - 2008 Beritadotcom.blogspot.com