Friday, January 18, 2008
Jakarta:Perum Bulog sampai saat ini belum menemukan alternatif negara importir kedelai selain Amerika Serikat (AS). Untuk sementara Bulog tetap akan mengimpor kedelai dari negeri Abang Sam. “Kedelai dari AS ini pun kelas dua, bukan kelas satu,” kata Direktur Utama Bulog Mustafa Abubakar kepada wartawan di Kantor Wakil Presiden di Jakarta kemarin.
Sebenarnya kedelai kualitas terbaik berasal dari Kanada. Namun, harganya sangat mahal. Brasil dan Argentina juga negara penghasil kedelai besar di dunia, tetapi kualitasnya masih di bawah Amerika Serikat. “Jadi dari sisi harga, yang cocok bagi Indonesia kedelai kelas dua dari AS itu,” papar Mustafa.
Harga kedelai terus melonjak dari Rp 3.000 per kilogram pada akhir 2007 menjadi Rp 7.500 per kilogram saat ini. Lonjakan harga disebabkan naiknya harga kedelai di pasar internasional dari US$ 300 per ton menjadi US$ 600 per ton. Indonesia mengimpor kedelai karena produksi dalam negeri sekitar 800 ribu ton per tahun tak mampu memenuhi kebutuhannya sebesar 1,8-2 juta ton per tahun.
Lonjakan harga kedelai memukul ribuan pengrajin tahu dan tempe di Tanah Air, yang mayoritas para pengusaha kecil. Beberapa pengrajin tahu dan tempe bangkrut dan menutup usahanya. Akibatnya tahu dan tempe menghilang di pasar di berbagai daerah. Senin lalu, ribuan pengrajin tahu dan tempe berunjuk rasa di depan Istana Presiden meminta pemerintah mengendalikan harga kedelai.
Untuk mengatasi lonjakan harga dalam jangka pendek, pemerintah membebaskan bea masuk impor kedelai menjadi nol persen dari sebelumnya 10 persen. Pemerintah juga akan membantu mencarikan negara importir kedelai murah. Adapun dalam jangka menengah dan panjang, pemerintah akan meningkatkan produksi kedelai lokal dengan cara menambah areal baru. (Koran Tempo, 16/1).
Sejumlah kalangan mendesak pemerintah melalui Bulog segera menstabilkan harga kedelai. Namun, menurut Mustafa, kini Bulog tak berwenang turun langsung menstabilkan harga kedelai setelah statusnya berubah dari lembaga pemerintah non departemen (LPND) menjadi perum. “Untuk mestabilkan harga kedelai, pemerintah melalui Dirjen Bea Cukai sudah memanggil para importir kedelai,” ungkapnya. Saat ini impor kedelai didominasi Teluk Intan, Gunung Sewu, Liong Seng dan Cargill.
Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Riset Perkebunan Indonesia Didiek Hadjar Goenadi, tingginya ketergantungan impor kedelai akibat pemerintah kurang serius mewujudkan swasembada pangan kedelai. Di setiap masa pemerintahan, meskipun ada program swasembada kedelai, tak pernah berhasil karena minimnya dana dan koordinasi lintas departemen. "Perlu ada dukungan industri hilir untuk memperlancar proses produksi kedelai," ujarnya di Jakarta kemarin.
Didiek melanjutkan, kedelai bisa tumbuh di beberapa wilayah Indonesia, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Sulawesi.” Kendati bukan tanaman asli Indonesia, tak ada alasan tak memproduksi kedelai,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Tani Andalan Winarno Tohir mengatakan, saat ini banyak petani kedelai beralih ke jagung karena harganya lebih menguntungkan. Agar tertarik, pemerintah sebaiknya menetapkan harga kedelai regional agar ada patokan harga yang jelas seperti jagung. "Harus ada insentif agar petani mau menanam kedelai," ujarnya.
Source
Silahkan Beri Komentar Anda Mengenai Berita/Artikel Ini.
Labels: Bisnis dan Ekonomi, News
0 comments:
Post a Comment